Refleksi Nuzulul Qur’an Dan Harlah NQ Ke-9 : Menanamkan Al-Qur’an Di Dalam Hati
Wonosobo - Momentum penuh keberkahan menyelimuti Pondok… Lihat Selengkapnya
Oleh Admin
Wonosobo - Momentum penuh keberkahan menyelimuti Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Nashoihul Qulub Depok, Krinjing, Watumalang, Wonosobo pada Sabtu, 7 Maret 2026. Keluarga besar pesantren bersama para alumni memperingati dua peristiwa agung sekaligus: Nuzulul Qur'an dan Hari Lahir (Harlah) ke-9 PPTQ Nashoihul Qulub.
Acara dibuka dengan penampilan memukau dari Grup Shalawat Santri. Alunan puji-pujian kepada Baginda Nabi SAW serta pembacaan Al-Barzanji yang dipimpin secara syahdu oleh Ustadz Musyoyih.
Dalam acara yang berlangsung khidmat tersebut, Pengasuh PPTQ Nashoihul Qulub, K. Fahrudin, S.Ag., Al-Hafidz, dalam Mauidhotul Hasanah-nya memaparkan uraian mendalam mengenai filosofi turunnya Al-Qur'an dan relevansinya dengan proses ngaji para santri.
Dua Fase Turunnya Wahyu
Dihadapan para santri dan almuni, Kyai Fahrudin membedah makna Nuzulul Qur’an secara bahasa (lughawi) yang mencakup dua dimensi proses, yaitu:
Pertama: Inzalan (Turun Sekaligus): Proses turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Sidratul Muntaha ke Baitul Izzah (Langit Dunia). Peristiwa ini terjadi secara utuh pada malam yang penuh kemuliaan di bulan suci Ramadan.
Kedua: Tanzilan (Turun Bertahap): Proses turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Dimulai dengan wahyu pertama (QS. Al-Alaq: 1-5), proses ini berlangsung selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari hingga ayat terakhir diturunkan.
Hikmah di Balik Proses Bertahap
Lebih lanjut, Kyai Fahrudin menekankan alasan di balik metode tanzilan tersebut. Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus kepada Rasulullah agar setiap ayatnya dapat terhujam kuat dan "menancap" di dalam hati umatnya.
Konsep ini menjadi inspirasi utama bagi para penghafal Al-Qur'an. Menghafal secara bertahap justru memberikan ruang bagi jiwa untuk menyerap makna dan menjaga kemurnian hafalan dengan lebih mudah.
"Proses yang berangsur-angsur ini mengajarkan kita tentang keteguhan. Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit agar ia kuat dalam ingatan dan kokoh dalam pengamalan," tutur beliau di hadapan para santri tahfidz.
Momentum Milad ke-9: Menuju Pendewasaan
Peringatan Harlah ke-9 ini menjadi simbol perjalanan PPTQ Nashoihul Qulub dalam mencetak generasi penjaga wahyu. Usia sembilan tahun dimaknai sebagai masa pendewasaan untuk tetap istiqomah menjalankan metode tanzilan—menghafal secara bertahap namun pasti.
Harapannya, Al-Qur'an tidak sekadar menjadi hafalan yang berhenti di lisan, tetapi menjelma menjadi cahaya yang menerangi hati nurani dan perilaku seluruh santri.
Wonosobo - Momentum penuh keberkahan menyelimuti Pondok… Lihat Selengkapnya
Adab dan tata krama adalah prinsip-prinsip yang mengatur perilaku… Lihat Selengkapnya
Setiap orang pasti dapat memasrahkan anaknya ke seorang guru, tanpa… Lihat Selengkapnya
Pondok pesantren dapat menjadi opsi bagi orang tua untuk melanjutkan… Lihat Selengkapnya